3 Teladan Mulia di Peringatan Haul Nyai Hj. Siti Ummi Zuhriyah ke-21

REJOMULYO – Suasana khusyuk dan penuh takzim menyelimuti kompleks peninggalan keluarga besar pesantren saat masyarakat serta para santri berkumpul dalam acara keagamaan. Peringatan Haul Nyai Hj. Siti Ummi Zuhriyah yang ke-21 digelar dengan penuh kesederhanaan namun tetap memancarkan kekhidmatan yang mendalam. Agenda tahunan ini diselenggarakan untuk mengenang jasa-sasa serta meneladani keluhuran budi pekerti almarhumah semasa hidupnya. Beliau merupakan sosok figur ibu sekaligus pejuang pendidikan yang merupakan istri dari Almaghfurllah Kyai Imam Fauzi, serta ibunda tercinta dari KH. Moch Nurul Islam Al Mursyid.

Kehadiran Jamaah dan Suasana yang Khidmat

Acara yang berlangsung di Rejomulyo ini dihadiri oleh ratusan jamaah yang berasal dari lingkungan sekitar serta para alumni yang sengaja datang untuk ngalap berkah. Meskipun dikonsep secara sederhana guna menjaga kesakralan momentum ritual doa, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Ikatan batin yang kuat antara jamaah dengan keluarga besar pimpinan yayasan membuat jalannya peringatan Haul Nyai Hj. Siti Ummi Zuhriyah terasa sangat hangat dan menyentuh hati bagi siapa saja yang hadir di dalam majelis tersebut.

Haul Nyai Hj. Siti Ummi Zuhriyah
Haul Nyai Hj. Siti Ummi Zuhriyah

Napak Tilas Perjuangan dan Babat Pendidikan 1975

Sebelum prosesi pembacaan doa utama dimulai, pengasuh tertinggi sekaligus putra kandung almarhumah, KH. Moch Nurul Islam, memberikan sambutan pembuka di hadapan para jamaah. Dalam pidatonya yang sarat akan pesan moral, beliau menjabarkan riwayat hidup serta sejarah panjang perjuangan sang ibunda. Momentum sejarah yang paling ditekankan dalam peringatan Haul Nyai Hj. Siti Ummi Zuhriyah kali ini adalah kilas balik peristiwa pada tahun 1975 silam.

Pada tahun 1975 tersebut, Nyai Hj. Siti Ummi Zuhriyah berjuang bahu-membahu bersama sang suami, Almaghfurllah Kyai Imam Fauzi, dalam proses awal atau babat berdirinya Taman Kanak-Kanak (TK) Darul Ulum Rejomulyo. Pendirian lembaga anak usia dini tersebut merupakan fase krusial bagi dakwah Islam di daerah Karangmojo dan sekitarnya. Perjuangan berat yang dilalui dengan penuh keikhlasan tersebut kini telah membuahkan hasil nyata, di mana TK Darul Ulum diakui menjadi cikal bakal sekaligus salah satu pilar utama dari sekian banyak lembaga formal yang kini bernaung di bawah payung besar Yayasan Darul Ulum Rejomulyo.

Tahlil Bersama Dipimpin oleh Kyai Nurul Iman

Penjelasan sejarah yang disampaikan oleh KH. Moch Nurul Islam membuat para jamaah yang hadir semakin larut dalam rasa kagum dan haru. Nilai-nilai ketulusan dalam mengajar dan merawat umat yang diwariskan oleh almarhumah menjadi cambuk semangat bagi generasi penerus yayasan saat ini.

Setelah sambutan rampung disampaikan, agenda utama dari Haul Nyai Hj. Siti Ummi Zuhriyah dilanjutkan dengan pembacaan kalimat tayyibah dan tahlil bersama. Prosesi pembacaan tahlil yang sakral ini dipimpin langsung oleh Kyai Nurul Iman, yang merupakan adik kandung dari KH. Moch. Nurul Islam. Suara lantunan zikir, tahmid, dan tahlil yang berkumandang serempak dari ratusan jamaah membuat atmosfer majelis terasa begitu bergetar. Doa-doa terbaik dipanjatkan agar segala amal ibadah dan perjuangan dakwah Haul Nyai Hj. Siti Ummi Zuhriyah diterima di sisi Allah SWT serta ditempatkan di maqam yang paling mulia.

Penutup dan Warisan Nilai Spiritual

Acara yang berlangsung selama beberapa jam tersebut akhirnya ditutup dengan doa sapu jagat dan pemotongan tumpeng berkah sebagai wujud rasa syukur atas kelancaran acara. Warisan keteladanan yang ditinggalkan oleh almarhumah terbukti tidak lekang oleh waktu, meskipun raga beliau telah tiada selama dua dekade lebih.

Melalui momentum pelaksanaan Haul Nyai Hj. Siti Ummi Zuhriyah yang ke-21 ini, keluarga besar yayasan kembali meneguhkan komitmennya untuk terus menjaga, merawat, dan mengembangkan seluruh aset perjuangan pendidikan yang telah dirintis sejak era Kenaiban. Kegiatan ini menjadi pengingat bagi masyarakat luas bahwa kemajuan lembaga dakwah yang ada saat ini tidak lepas dari tetesan keringat dan doa malam dari para ulama serta nyai terdahulu yang berjuang tanpa pamrih demi tegaknya syiar Islam di tanah Jawa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top